Minggu, 30 September 2012

Aku Belum Siap Untuk KALAH

Memang semua dimulai dari saat kita terjatuh dan belajar berdiri kembali agar kita paham dimana letak batu kesalahan yang akan aku hadapi diperjalanan yang akan datang. Waktu memang mengajarkan segala macam rasa kehidupan dan memberikan garam pengalaman yang tak ternilai harganya,tapi kehidupanku dimulai dari kekelahan yang kulakukan sendiri. Dan ketika getahnya mengenaiku aku baru sadar ternyata kesalahanku dulu berakibat terjadinya rututan panjang sebuah pemikiran dimana kekalahan harus aku alami. Dari kecil aku tidak pernah berani untuk bertarung di arena itu karena ketakutanku untuk masuk ke arena itu sungguh luar biasa lebih dari alasan yang aku muntahkan untuk menolak masuk arena tersebut. Aku baru menyadari bahwa arena tersebut adalah arena pembelajaran bukan arena bertarung seperti apa yang dimimpikan oleh ketakutanku kerena rasa ketidak mampuanku.


Mimpi kecil kutulis oleh kesombonganku diantara ketakutan yang ada dalam hatiku "aku percaya tuhan itu adil menempatkan aku di posisi ini",tapi memang benar yang seperti ku katakan keadilan datang bergantung pada keikhlasan dari diriku sendiri untuk membaranikan  diri mengatakan aku siap kalah ituk kali ini. Mulut memang lebar mengeluarkan apapun yang kita telan tanpa bisa terurai kembali seperti semula,aku memang belum siap untuk kalah di waktu ini. Tetapi terdengar angin bertiup orang yang kalah belum tentu mempunyai mental kalah karena itu cara mendidik sang kalah untuk menggapai mimpi juara.


Mimpi kembali kutulis mengharap bintang juara ada di gengaman tangan yang pincang karena yang satu dan yang lain tidak akan memegang bintang ini secara bersamaan karena kebimbangan hati ini untuk meyakinkan diri bahwa akulah sang juara, ini semua terhapus dengan sebuah kekalahan yang sangat aku perkirakan sebelumnya. Aku sudah siap kalah untuk belajar tentang sebuah pertempuran tapi aku slalu merasa kekalahanku ini karena aku tidak siap untuk kalah. Aku hanya siap untuk mengucapkan aku menang atas kekalahanku yang tidak akan terjadi ketika keyakinanku untuk kalah hampir sama dengan keyakinanku untuk menang di hari ini.


Memang aku belum siap untuk kalah,tapi seperti ini kekelahan yang dari kecil seharusnya aku coba agar aku bisa mempersiapkan diri untuk menang di kemudian hari. Seperti yang ayahku sampaikan dulu " waktu kemenangan itu telah direncanakan tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri untuk membawanya pulang sebagai hadiah atas seluruh pembelajaran kekalahan yang sudah kita lalui karena memang kita sudah siap untuk berlari tanpa pernah terjatuh dikemudian hari.

Kamis, 20 September 2012

hijaunya teknologi atau gersangnya kehidupan tua



Sore ini ada sebuah kegundahan hati bagi ku , mencoba mencari sesuatu lain ditempat yang dulunya sering ku lewati dan sekarang menjadi jalan kenangan. Dengan sebuah kamera ku memberhentikan langkah di tempat yang sekarang dianggap mati. Melihat menggunakan mata lensa aku mulai merekam  beberapa sudut ditempat yang tak asing dan sambil menatap cakrawala yang menyengat lensa dan jaket saya. Terlihat sesorang kakek tua yang sedang mencari kehidupan dan kebahagian dibawah teduhan langit tak berawan ,sambil terus memotongs umber kehidupan untuk hari tuanya. Seolah sudah digariskan untukku mendekat dan semoga orang ini bisa memberikan jalan baru atas perasaan yang ku alami, tanpa aku berkata kakek tua ini menyapa ku sepertinya memang ini jawaban atas kegundahan hatiku dengan beberapa nasehat yang ku rasa aneh “ kakek ini tahu perasaanku” mungkin ini memang mulut tuhan untuk memberi jawab yang seharusnya saya temukan. Hanya ucapan kecil atas pengalaman dirinya bertahan hidup. Tersenyum adalah hal yang bisa ku berikan pada waktu itu.

candaan kecil mewarnai diskusi tentang kehidupan yang di ceritakannya.tapi disini aku tak pernah mendengar apa yang diceritakanya sepenuhnya, tapi aku berfikir dan bertanya kepada beliau “ sampai kapan kakek bekerja seperti ini “ dan dengan jawaban yang sudah sering saya dengar “ sampai saya tidak mampu melakukan pekerjaan ini dek” . saya mulai berfikir dengan melihat kenyataan yang ada di lensa kameraku. Bukan sampai kapan kakek bisa bertahan melakukan pekerjaan ini  tapi sampai kapan tanah ini akan gersang kehilangan hijaunya rerumputan Mungkin bisa membuat kehidupan kakek ini menjadi gersang bukan hanya ditanah yang memberinya nafkah itu. Sedih melihat hal ini tapi apa yang bisa kulakukan aku hanya pemegang lensa dari anak seorang petani yang mencari ijasah untuk mencari kehidupan nantinya.

Dikampus yang sedang bersemangat dengan eco compus dan perkembangan teknologinya sebuah kehidupan kecil tentang orang yang tidak berizin ditempat ini. Hanya sebuah nafkah yang menuntut mereka menjadi orang-orang ilegal ditempat ini. Mungkin semuanya akan berlomba dengan waktu untuk sebuah kemajuan teknologi yang bertempat di kampus hijau ini (eco campus). Mungkin sebentar lagi tempat yang ada di depan mata lensa saya akan kehilangan hijaunya dan akan memperkeruh kehidupandi hari tua kakek ini untuk mencari setumpuk ke waktu untuk bertahan hidup dengan rumput hijau yang akan hilang. Bertaruh dengan waktu agar tetap bertahan di daerah eco campus atau hanya menunggu waktu hingga terbukti yang akan bertahan adalah hijaunya teknologi dan gersangnya kehidupan kakek tua di tempat dia berdiri untuk mencari rumput kehidupannya.